Kamis, 14 Januari 2016

LAPORAN HASIL OBSERVASI "KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INDONESIA DALAM KESEHARIAN"

Laporan Hasil Observasi




Siswa terasa asing terhadap bahasa nasionalnya yaitu bahasa Indonesia. Mereka sungkan mengunakan dalam percakapan atau berbicara pada kesehariannya, terutama di lingkungan sekolahnya. Keterasingan berbicara bahasa Indonesia ini karena tidak adanya aturan yang mengikat dalam penggunaanya. Bahkan guru sebagai pendidikpun enggan melakukannya. Maka perlu adanya pemecahan terhadap permasalahan di atas. Dibuatnya aturan dari sekolah, keteladanan guru dalam penggunaan bahasa Indonesia, pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai kompetensi, dan penilaian praktik secara rutin.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan juga dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor Tahun 2009 tentang Ujian Akhir Sekolah memuat Standar Kompetensi Lulusan (SKL)  mata  pelajaran bahasaIndonesia yangmenuntutbagisiswamempunyaiberbagaiketerampilanberbahasaIndonesiayangbaikdanbenar.Sehinggasiswa yangtelah lulusseharusnyamemilikiketerampilanberbahasaIndonesiasesuaistandarkelulusan. Akantetapi  kenyataannyadalampraktik sehari-hari padalembagapendidikan  baik  tingkat  dasar  maupun  perguruan  tinggi  kurang  mendukung terhadap  keterampilan  berbahasa Indonesia, terutama  dalam keterampilan berbicara. Haliniterlihatpadasetiaplembagapendidikan,misalnya:pada saat proses kegiatan  belajar mengajar (KBM) bahasa Indonesia  baik  guru  atau  siswa tidak berbicara menggunakan bahasa Indonesia, apalagi di luar kelas guru atau siswa selalu berbicara menggunakan bahasa daerahnya.
Untuk itu, perlu adanya upaya membiasakan berbahasa Indonesia dalam berbicara pada saat terjadinya interaksi hubungan antara guru dengan siswa di sekolah. Bertitik  tolak   dari  hal atas, maka bagaimana upaya-upaya membiasakan siswa berbicara   bahasa  Indonesia  di  sekolah?

Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Apa pentingnya kemampuan berbicara Bahasa Indonesia di sekolah?
2.      Apa saja hambatan-hambatan dalam membiasakan berbicara Bahasa Indonesia di sekolah?
3.      Bagaimana langkah-langkah dalam membiasakan berbicara dengan Bahasa Indonesia di sekolah ?

Adapun tujuan penelitian dari laporan hasil observasi ini, sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pentingnya kemampuan berbicara Bahasa Indonesia di sekolah.
2.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan dalam membiasakan berbicara Bahasa Indonesia di sekolah.
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah dalam membiasakan berbicara dengan Bahasa Indonesia di sekolah.

Manfaat teoretis, yaitu :
Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan khasanah tentang kemampuan berbicara dalam bahasa Indoesia.
Manfaat praktis, yaitu :
1.      Menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia.
2.      Meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia.
3.      Bahasa Indonesia menjadi lebih kental di lingkungan sekolah.
4.      Mempermudah dalam bekomunikasi antar siswa.




Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Hal ini mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara akan lebih efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Maka bagi pelajar (siswa) bicara juga berfungsi untuk mencapai tujuannya. Sehingga dalam pembelajaran bahasa Indonesia kemampuan berbicara merupakan kompetensi  yang harus  diujikan sesuai tingkatannya. Misalnya keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah  hanya terwujud pada proses kegiatan belajar mengajar di kelas saja. Dalam kompetensi umum mata pelajaran bahasa Indonesia berbicara megungkapkan indikator-indikator yang berhubungan dengan mengungkapkan gagasan, menyampaikan sambutan, berpidato, berdialog, menjelaskan, mendiskripsikan, dan percakapan yang lainya yang hanya menyangkut dalam pembelajaran saja.
Mempraktekkan berbicara bahasa Indonesia dalam keseharian tidak pernah diperhatikan dan dinilai. Para siswa dibiarkan berbicara menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, padahal bahasa resmi yang digunakanpadapendidikanadalahbahasaIndonesia.Sungguhmemprihatinkan bila hal ini dibiarkan berlarut-larut pada setiaplembaga pendidikan. Kadang lembagapendidikanlebihmerasabanggabiladapatmengembangkanbahasaasinglebihmajudaripadamengembangkan bahasa Indonesia, seperti kata pepatah “kacang lupa kulitnya”.  Ini adalah bukti konkret pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah belum  bisa mempraktikkan dalam kesehariannya. Maka perlu adanya upaya bagi  guru untuk menentukan kebijakan supaya pembelajaranbahasaIndonesiatidak hanya di kelas tetapi juga di luar kelas.
Bila  keterampilan  berbicara  bahasa  Indonesia dapat diterapkan dalam sehari-hari oleh seluruh anggota sekolah maka akan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Sehingga dapat mempesatukan berbagai macam siswa yang berbeda asalnya. Menurut Tuhusetya dan Deni Kurniawan As’ari (dalam Rosdiana, 2008) “fungsi khusus bahasa, yaitu sebagai alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda”.



Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dapat pula dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata dan kalimat, sistematika pembicaraan, isi pembicaraan, cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, dan penampilan.
Untuk mewujudkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia agar dapat diterapkan dalam percakapan sehari - hari, diperlukan upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah. Upaya itu dapat diterapkan dalam suatu program-program, diantaranya sebagai  berikut.
1.        Guru menjadi model untuk siswa
Kemampuan pokok yang ideal untuk dikuasai guru prefesional adalah kemampuan membantu siswa belajar efisien dan efektif agar mencapai tujuan optimal (Abdulhak, 2008). Siswa membutuhkan contoh dari guru yang dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Guru hendaknya memberikan contoh keteladanan dalam berbahasa agar siswa dapat menirukan  dan melafalkan kata atau kalimat dengan tepat sesuai kaidah yang berlaku. Dalam melaksanakan upaya di atas, maka mereka harus berbicara bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, ruang guru, atau di luar kelas. Bila guru membiasakan untuk selalu berbahasa Indonesia, hal ini dapat membantu siswa dalam belajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia sehingga guru dapat dijadikan contoh oleh siswanya dalam berbicara.
2.        Menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia perlu menerapkan pendekatan Modeling The Way (membuat contoh praktik). Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui demonstrasi. Kemudian hasil demonstrasi ini dapat diterapkan dalam keseharian di sekolah, yaitu siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil kemudian melakukan identifikasi beberapa situasi umum yang biasa siswa lakukan di ruang kelas dan di luar kelas dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar lalu siswa mendemonstrasikan satu persatu dalam berbicara bahasa Indonesia. Modeling The Way memberi waktu siswa untuk menciptakan  skenario sendiri dan menentukan bagaimana mengilustrasikan keterampilan berbicara sesuai kelompoknya. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberikan feedback pada setiap demonstrasi yang dilakukan.
Dengan pendekatan Modeling The Way dalam pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara siswa  dapat meningkat dan keberanian siswa dalam berbicara semakin berani dan tidak takut salah. Dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia pada siswa  tepat karena dapat meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara bahasa Indonesia.
3.        Adanya penilaian keterampilan berbicara bahasa Indonesia
Walaupun pelaksanaannya di luar kegiatan belajar mengajar tetapi guru harus mengadakan penilaian keterampilan berbicara pada kesehariannya. Penilaian ini akan menjadi motivasi bagi siswa untuk berusaha mempraktikkannya baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dengan  demikian siswa  termotivasi  untukmelakukan perbuatan yang  sama  bahkan berusaha meningkatkannya. Penilaian praktik di luar kelas dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai pada pendekatan Modeling The Way. Pada kelompok-kelompok tersebut setiap siswa diberi lembar penilaian yang memuat nama siswa yang diamati yaitu siswa yang tidak berbicara bahasa Indonesia baik di dalam kelas maupun di luar kelas, data kalimat yang tidak diucapkan dengan bahasa Indonesia oleh siswa tersebut, dan data rekap kesalahan siswa. Setiap siswa dalam pergaulannya sehari-hari di sekolah saling menilai teman-temannya, sehingga mereka sama-sama saling mengawasi. Dengan kondisi dan situasi yang demikian maka seluruh siswa berusaha semaksimal mungkin berbicara bahasa Indonesia sehari-hari, supaya jumlah kesalahan yang dicatat temannya sedikit mungkin. Hal inilah yang membuat siswa semakin berani dan percaya diri berbicara bahasa Indonesia di sekolah.
4.        Sekolah Membuat Program Sehari Berbahasa Indonesia.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa adalah kondisi eksternal. Kondisi eksternal yaitu faktor di luar diri siswa, seperti lingkugan sekolah, guru, teman sekolah, dan peraturan sekolah.  Kondisi eksternal terdiri atas 3 prinsip belajar yaitu:
a)      Memberikan situasi atau materi yang sesuai dengan respon yang diharapkan,
b)      Pengulangan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama di ingat,
c)      Penguatan respons yang tepat untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu.
Program sehari berbahasa di tiap sekolah merupakan kondisi eksternal yang efektif untuk mempraktikkan keterampilan berbahasa. Hal ini sudah sangat lazim dilakukan pada pondok pesantren modern, contohnya Pondok Pesantren  Gontor yang menerapkan program kepada santrinya untuk sehari  berbahasa Arab dan sehari berbahasa Inggris, sehingga santrinya mahir berbahasa Arab dan Inggris.
Bila program ini dapat diterapkan di sekolah tentunya  akan  sangat bermanfaat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Mereka akan terbiasa dan tidak  canggung berbicara bahasa Indonesia di lingkungan sekolah. Program ini ternyata cukup ampuh untuk pembiasaan bagi warga sekolah untuk berbicara bahasa Indonesia.

Usaha untuk  meningkatkan  keterampilan  berbicara bahasa  Indonesia  di  sekolah   akan  ditemui hambatan yang datang dari lingkungan sekolah itu  sendiri, antara lain:
·         Adanya pandangan guru bahwa berbicara bahasa Indonesia dalam keseharian di  sekolah itu tidak lazim.
Halinitercerminketikadalampergaulansehari-harimerekasungkanberbicarabahasa Indonesiabahkandenganlugasnya  berbicara  seenaknya.MerekalupabahwapenggunaanbahasaIndonesiadipakaipadabahasaresmi lembagapemerintahdan pendidikan. Hal ini terjadi di sekolah-sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, mereka para guru tetap menggunakan bahasa daerahnya. Jarang sekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan teman guru atau bahkan dengan para siswanya.
·         Belum adanya penilaian bagi siswa yang berbicara bahasa Indonesia
Keadaan yang demikian menimbulkan sikap apatis pada diri siswa karena merasa tidak ada gunanya baik yang berbicara bahasa Indonesia maupun yang tidak. Belum adanya pengawasan dan penilaian dari guru dalam pelaksanaan berbicara bahasa Indonesia di luar kelas mengakibatkan siswa acuh dalam mempraktikkannya. Sehingga perlu adanya model penilaian yang nyata dalam percakapan sehari-hari sehingga dapat mebuat siswa bersemangat dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian di sekolah.
·         Tidak adanya program  berbahasa Indonesia dari lembaga  pendidikan
Untuk sementara ini pada setiap lembaga pendidikan belum ada yang mempunyai inisiatif memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Entah karena gengsi atau merasa bahasa Indonesia tidak terkenal. Padahal menurut Profesor  Yang Seung-Yoon, Ph.D dari   Hankuk University  of  Foreign  Studies, Seoul, Korea, berpandangan bahwa bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional, setidaknya di Asia (Doyin, 2006).

Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa  Indonesia di mata negara lain memiliki potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, kebanggaan terhadap  bahasa Indonesia harus  kita pupuk  sedini mungkin, sehingga ke depannya kita dapat berharap bahasa Indonesia  menjadi bahasa yang mendunia.

BAB III
PENUTUP
Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Hal ini mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara akan lebih efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Maka bagi pelajar (siswa) bicara juga berfungsi untuk mencapai tujuannya.
Berdasarkan hasil dari observasi yang telah saya lakukan, keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa SMP Negeri 2 Demak belum menguasai dan masih menggunakan bahasa daerah masing-masing, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia baik guru maupun siswa.
Untuk mewujudkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia agar dapat diterapkan dalam percakapan sehari - hari, diperlukan upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah. Upaya itu dapat diterapkan dalam suatu program-program, diantaranya sebagai  berikut.
1.                Guru menjadi model untuk siswa.
2.                Menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way.
3.                Adanya penilaian keterampilan berbicara bahasa Indonesia
4.                Sekolah membuat program sehari berbahasa Indonesia.
Usaha untuk  meningkatkan  keterampilan  berbicara bahasa  Indonesia  di  sekolah   akan  ditemui hambatan yang datang dari lingkungan sekolah itu  sendiri, antara lain :
·         Adanya pandangan guru bahwa berbicara bahasa Indonesia dalam keseharian di  sekolah itu tidak lazim.
·         Belum adanya penilaian bagi siswa yang berbicara bahasa Indonesia.
·         Tidak adanya program  berbahasa Indonesia dari lembaga  pendidikan

Sebagai warga negara yang baik, mari kita meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia kita, tidak hanya dalam pembelajaran di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari upaya-upaya pembiasaan berbicara bahasa Indonesia diatas, diharapkan penguasaan keterampilan berbicara bahasa siswa semakin meningkat, sehingga siswa  dapat  mempraktikkannya dengan  baik  dan benar. Apalagi kita sebagai generasi penerus bangsa harus dapat mengembangkan dan melestarikan bahasa Indonesia.



Tarigan, H.G. 1986. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Djago dkk. 1998. Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta: Depdikbud.
Mulyati, Yeti, dkk. 2011. Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.




















IMG_20151030_085241.jpg

 

0 komentar: